Pengumpan:
Tulisan
Komentar

The question about the origins of Polynesians people has been the subject of hot debate. There are two principal hypotheses concerning Polynesian ancestry, there are called as “Express Train” (Asia origin) and “Entangled Bank” (Melanesia origin). Several intermediate hypothesis exists between them are “Slow Train”, Slow Boat” and “Voyaging Corridor”. To traces human migration and movement in prehistoric times is not easy case, it should used a comparisons study based on historical linguistic, genetic, and palaeoanthropological data. Results of those studies are able to evaluate some of the competing hypotheses that relate to the settlement and colonization of the Pacific Insular and the bio-cultural connections within another region that may inform on population movements.
Noerwidi_EarlyPeoplingofthePacific

The pictures indicated as an art began their human invasion of the symbolic world, just started around 100.000 BP and more intensively since 30.000 years. The meaning of the relations between the men and with their world is produced by organization of representations in graphic systems by images, expression and communication in the same time. Since the first appearance of genus Homo, the development of cerebral and social evolution probably causes the ability to symbolize. Human uses the image to the modernity which is gives a symbolic way to the meaning for the beings and to the things (Vialou, 2009). This paper is a short report about development of contribution on study of symbolic behavior for interpreting of prehistoric society, from beginning period until recent times by several scholars.Noerwidi_PrehistoricArt

Sofwan_ImplikasiMigrasi

When the Austronesian language speakers come in the Indonesian archipelago, this region has been inhabited by non-Austronesian communities. The process of adaptation, innovation, and interaction cultures of Austronesian societies in this new colony region reflects on the development of shell tool technology, navigation technology, cultivation of crops and animals domestication. In addition to inter-cultural interaction, migration-colonization process also raises of founder-focused ideology in the Austronesian social structure. Phase of interactions between cultures in the case of migration-colonization Austronesian communities in the Indonesian archipelago are: Intrusion new culture comes in the Indonesian archipelago brought by Austronesian people. As a result of these events, in the Indonesian archipelago appeared neolithic culture. After the colonization of the Austronesian people, neolithic culture in the Indonesian archipelago through innovation caused by cultural evolution and interaction between migrants communities of Austronesian with the indigenous non-Austronesian communities. Inter-cultural evolution and interaction causes the cultural integration of Austronesian and non-Austronesian in the Indonesian archipelago.

Sofwan_SudutTenggara

The first Neolithic dwelling settlement discovered in Java is Kendenglembu Site, reported by W. van Wijland and J. Bruumun in 1936. H.R. van Heekeren started systematic excavation in 1941. The second research was lead by R.P. Soejono from the Department of Prehistory the National Archaeological Institute of Indonesia in 1969. The last research in Kendenglembu site leads by Goenadi Nitihaminoto from the Archaeological Office of Yogyakarta in 1986. Since then, there has never been any systematic research conducted in Kendenglembu and Kalitajem site, until now. Prehistoric research at Kendenglembu Site in 2008 was priorities to seek chronometric data sampling, to reconstruct the chronology of Kendenglembu and Kalitajem site occupation, from the Neolithic phase until Historic phase; and to identify the character of material culture (lithic tool and pottery) from Kendenglembu and Kalitajem site that were inhabited by Neolithic people, in order to understanding early Neolithic life in Java.

Sofwan_BatasKotaRev

Majapahit, sebagai salah satu kerajaan besar pada masa lampau telah banyak mengilhami kehidupan kita pada masa kini. Usaha-usaha untuk mengungkapkan kebesaran kerajaan tersebut telah dimulai sejak Letnan Jenderal Raffles menguasai Pulau Jawa dan daerah sekitarnya. Thomas Stamford Raffles-lah yang menggeluti bidang kepurbakalaan dan sejarah Indonesia kuno. Dalam bukunya “the History of Java” tahun 1817, telah dimuat beberapa keterangan mengenai peninggalan Majapahit yang menarik perhatiannya, antara lain Candi Brahu dan Gapura Jati Pasar (lihat Raffles, 1978: 54 dan 134). Setelah itu banyak pula sarjana asing, kebanyakan Belanda ikut andil menyumbangkan pemikirannya dalam merekonstruksi Majapahit, yang beberapa diantaranya merupakan ahli bahasa Sansekerta, antara lain adalah; J.L.A. Brandes (1857-1905), H. Kern (1833-1917), N.J. Krom (1883-1945), dan W.F. Stutterheim (1892-1942). Pada tahun 1896, Brandes menerbitkan edisi pertamanya tentang Pararaton, yang kemudian diikuti oleh artikel Kern pada tahun 1905 tentang Nagarakretagama dan kebesaran Majapahit, serta karya Krom tentang “Sejarah Hindu-Jawa” (Hindoe-Javaansche Geschiedenis) pada tahun 1931 (lihat Lombard, 2006b: 6-7). Selain itu, karya yang cukup komprehensif menggambarkan keadaan Majapahit pada masa Hayam Wuruk berdasarkan kitab Nagarakretagama adalah terbitan lima jilid “Java in the Fourteenth Century” karya Theodore G. Th. Pigeaud pada tahun 1960.

Sofwan_API08

Pulau Jawa merupakan salah satu pulau yang paling padat penduduknya di Kepulauan Nusantara. Dari sudut pandang genetik dan linguisik, pada saat ini mayoritas penduduk Pulau Jawa adalah masyarakat dengan ciri genetik Mongoloid serta menuturkan bahasa yang termasuk dalam rumpun Austronesia. Sampai saat ini, penjelasan yang paling luas diterima bagi kasus penyebaran masyarakat penutur bahasa Austronesia adalah Blust-Bellwood model yang dibangun berdasarkan gabungan antara data linguistic historis dan arkeologi. Teori yang diajukan mereka disebut juga model Out of Taiwan atau Express Train from Taiwan to Polynesia yang intinya bahwa masyarakat penutur bahasa Austronesia berekspansi dari Taiwan sejak 5.000 BP menuju Asia Tenggara Kepulauan, Melanesia Kepulauan, Micronesia hingga Polynesia, dengan cepat selama satu millennium berikutnya via Filipina. Pada masa sebelumnya, Taiwan dikoloni oleh sekelompok populasi petani dari daratan Cina Selatan via Pulau Peng Hu (Pascadores) pada sekitar 6.000 BP akibat tekanan demografi (Tanudirjo, 2006: 87).

sofwan_reportgranucci08

The surface survey activity was funding by Balai Arkeologi Yogyakarta and the excavation work by Anthony F. Granucci Fund via Indo-Pacific Prehistory Association

sofwan_migrasi-wallacea

Pada dasarnya masalah migrasi merupakan kasus yang sangat kompleks, yang harus dijelaskan dari berbagai sudut pandang keilmuan. Tulisan ini mencoba untuk menjelaskan variabel pokok yang mempengaruhi pola migrasi manusia. Variabel tersebut antara lain adalah lingkungan, teknologi, budaya dan manusia itu sendiri sebagai pembuat keputusan. Pada pola subsistensi pemburu-pengumpul, rekonstruksi pola migrasi manusia tidaklah semudah membuat garis-garis terdekat antar pulau, sebab tujuan utama mereka dalam mencari wilayah baru adalah untuk mencari sumber eksploitasi

kayato_candicebongan

Salah satu koleksi foto di kantor BP3 Yogyakarta yang berasal dari masa Oudheid Dienst adalah berupa foto hitam putih sebuah prasasti tembaga tanpa skala. Foto dengan nomor inventaris OD.2194 tersebut hanya diberi keterangan “koperplaat met vrouwe figuur tjebongan collectie” yang ditulis di sebalik kertas foto. Tidak ada catatan lain mengenai temuan prasasti ini selain diklasifikasikan sebagai temuan dari Distric Mlati, Onderdistric Mlati, Desa Tjebongan. Pada file-file foto lain juga terdapat temuan artefaktual dari daerah yang sama seperti yoni, fragmen jaladwara, arca Ganesha serta beberapa fragmen batu kemuncak. Selain itu juga terdapat foto sisa struktur kaki Candi Cebongan yang masih menunjukkan bentuk denah yang masih sangat bagus. Meski demikian, korelasi kontekstual antara temuan prasasti tembaga, sisa bangunan candi dengan artefak-artefak Hinduistis tersebut belum bisa diketahui dengan jelas. Sehingga untuk memudahkan penamaan prasasti, maka di dalam makalah ini digunakan penyebutan ‘prasasti Candi Cebongan’.

08_siswanto_edit

”Di seluruh dunia peninggalan sejarah dan pariwisata mempunyai hubungan yang tidak terpisahkan. Pariwisata digunakan sebagai alasan ekonomi untuk pelestarian warisan juga membantu pelestarian benda-benda artefak dan kehidupan rakyat di mata wisatawan” (Hewison dalam Hall. 1999).

07_suwardono_edit

Dikalangan masyarakat Malang dan sekitarnya, sosok Ken Dedes (baca: Dêdês) sebagai seorang putri Jawa kuno yang dipandang sangat cantik jelita sudah bukan barang baru lagi. Anggapan ini mencuat dipermukaan pada dekade awal abad 19, ketika orang Belanda menemukan reruntuhan di komplek percandian Singosari. Salah satu temuan dari reruntuhan itu adalah sebuah arca batu yang sangat indah yang ditemukan di candi Wayang atau candi E (menurut laporan-laporan Belanda), sebuah arca dari pantheon agama Budha Mahayana yaitu Dewi Prajñaparamita. Ketika arca tersebut untuk sementara berada di tempat residen di Malang, Monnerau, Residen Malang waktu itu menghubungkan arca Dewi Prajñaparamita tersebut dengan cerita penduduk tentang Ken Dedes (Blom, 1976). Dari sinilah dugaan awal timbulnya anggapan bahwa arca Dewi Prajñaparamita adalah portret dari Ken Dedes.

05_rusyad-isi_edit

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan karakteristik-karakteristik epigenetis upper viscerocranium dari sampel tengkorak manusia Liang Bua, Lewoleba, Melolo dan Ntodo Leseh (Nusa Tenggara Timur) dan Gilimanuk (Bali), dan faktor-faktor yang menentukan dan mempengaruhinya.

04_rita-istari_edit

Dalam penulisan sejarah kuna Indonesia, diperlukan tidak hanya sumber-sumber sejarah berupa benda-benda peninggalan masa lampau/artefak, tetapi juga berupa sumber-sumber tertulis yang salah satu diantaranya adalah prasasti. Dalam pengertian arkeologi, prasasti merupakan piagam resmi kerajaan yang dipahatkan di atas batu atau lempengan logam, biasanya berisi keputusan mengenai penetapan suatu daerah menjadi sima/daerah perdikan. Penetapan suatu daerah menjadi sima oleh seorang raja atau keluarga, biasanya dilakukan apabila daerah tersebut dianggap berjasa dan untuk kepentingan suatu bangunan suci. Akan tetapi, terdapat juga prasasti yang berisi tentang keputusan pengadilan dan hukum. Selain pada batu dan logam, tulisan kuna dapat juga dituliskan pada lontar, gerabah, arca, dan mungkin juga benda-benda lain yang mudah lapuk seperti bambu dan kayu, sehingga tidak dijumpai lagi sekarang.

03_masyhudi_edit

Pulau Jawa merupakan bentang lahan yang berada pada posisi yang sangat menguntungkan, yaitu posisi yang dapat membawa dampak akumulasi kultural dan politik yang datang dari berbagai arah. Hubungan yang terus-menerus antara Pulau Jawa dengan pulau-pulau lain bahkan negara-negara lain berakibat terjadinya akulturasi.

02_muhammad-hidayat_edit

Tinggalan budaya megalitik di wilayah Jawa Timur bagian timur seperti di wilayah Jember, Bondowoso, Situbondo, dan Banyuwangi cukup banyak. Dari beberapa penelitian selama ini diketahui bahwa peninggalan yang terdapat di wilayah Bondowoso sangat padat sebarannya, dan variasi hasil budayanya paling banyak. Oleh karenanya tidaklah salah jika ada yang menyebut bahwa di daerah timur Jawa Timur tersebut merupakan kerajaan megalitik dengan ibukotanya di Bondowoso. Khususnya terhadap peninggalan megalitik di Bondowoso ini sudah sering dilakukan penelitian. Namun penelitian-penelitian yang telah dilakukan tidak dapat menjawab secara tuntas terhadap permasalahan mengenai peninggalan tersebut. Permasalahan-permasalahan akademik baru terus bermunculan dan menuntut informasi-informasi/data baru untuk menjawabnya. Demikian pula munculnya/ditemukannya data baru yang menuntut penjelasan. Diantara permasalahan yang hingga kini belum terjawab secara memuaskan adalah mengenai masyarakat pendukung budaya megalitik dan masa perkembangannya.

sofwan_awal-pendaratan

Pulau Jawa merupakan pulau yang paling padat penduduknya di Kepulauan Nusantara. Berdasarkan kajian linguistik, Robert Blust (1984/1985) berpendapat bahwa proses pembentukan proto bahasa Jawa, Bali, Sasak dan Sumbawa bagian barat baru terjadi pada 2500 BP yang kemungkinan berasal dari suatu daerah di Borneo atau Sumatra. Namun, bukti arkeologis yang dapat digunakan untuk menguji hipotesis tersebut masih sangat terbatas, sehingga proses awal penghunian pulau Jawa oleh masyarakat neolitik Austronesia masih menjadi misteri. Mungkin saat ini situs-situs neolitik awal di pantai utara Pulau Jawa telah terkubur beberapa meter di bawah endapan aluvial. Data geologi dan geomorfologi memiliki peran yang sangat penting untuk mengungkap kasus tersebut. Selain itu juga perlu diperhatikan perubahan muka air laut pada masa lampau. Metode pencarian data dari bidang lain mungkin sangat membantu dalam hal ini, seperti geoelektrik misalnya.

HUMAN ARRIVAL AND ITS DISPERSAL

The several glacial periods that happened at the high and middle latitude areas during the Pleistocene, have caused varied changes of sea levels in all over the world, including in the Indonesian archipelago which is located in the equator. During those periods, when most of the ocean water froze due to a drastic drop of temperature, regressions occurred, sometimes the sea level dropped up to 100 meters. According to Molengraaff and Weber (1921), regression of ocean water during the Würm glacial period reached 72 meters. Meanwhile, de Terra’s calculation showed a sea level drop of about 120 meters during the Mindel glacial period, which was the most intensive ocean regression during the Pleistocene (de Terra, 1943).

AUSTRONESIAN PREHISTORY

A very relevant question before we discuss the human skeletal remains concerning the Austronesian prehistory is : who is really the Austronesian people? Most scholars agree that the term Austronesian has nothing to do with genetic-biological matters but related to linguistics one (see for example Jacob, 2003). That is why the Austronesian people should be considered as a group of the Austronesian speaking populations that are now widely dispersed from Taiwan (in the northern part), Madagascar (in the west), up to the Pacific islands (in the east). Archaeological studies on their cultural materials show some particular characteristics of this people : had an economy based on agriculture and animal domestication, and developed red-slipped pottery (Bellwood, 1997; Simanjuntak and Tanudirjo, 2003). As agricultural communities, they are no longer a hunter or gatherer, but highly related to the mechanism of the neolithic communities. Consequently, in terms of biological perspective, the Austronesian people are closely related to the people who lived since the Neolithic period, and therefore they could be assumed as Mongolid race. This principle must be agreed first upon this discussion to avoid confusion that potentially arises between the terms of Austronesian people as the Austronesian speaking populations and the Austronesian people as explained in biological context.

JEJAK KEJAYAAN BAHARI KARIMUNJAWA

“Nenek Moyangku Orang Pelaut

Gemar Mengarung Luas Samudra

…”

SENI TARI

Kesenian pada masa Jawa kuna khususnya seni pertunjukan, tidaklah semudah membicarakan kesenian yang ada pada masa kini. Sebab bukti-bukti yang tertinggal hanyalah berupa sumber tertulis/prasasti dan yang terpahat dalam relief-relief candi. Biasanya pertunjukan kesenian disebutkan pula dalam prasasti tentang penetapan sima/pemberian daerah perdikan, oleh seorang raja atau pejabat kerajaan. Dalam tulisan ini akan dibahas beberapa prasasti sekitar abad IX-X Masehi yang memuat tentang pertunjukan seni tari pada saat berlangsungnya upacara penetapan sima/perdikan tersebut.

METODE LINGUISTIK HISTORIS KOMPARATIF BAGI EPIGRAFI

Di dalam periode sejarah kuna Indonesia, prasasti adalah salah satu hasil budaya manusia masa klasik yang bersifat moveable disamping tinggalan-tinggalan yang bersifat unmoveable berupa bangunan-bangunan candi dan pertirtaan. Keberadaan prasasti secara makro tidak dapat dilepaskan dari wujud kebudayaan lain, seperti wujud nilai, wujud sistem perilaku dan wujud kebudayaan materi.


Istilah klasik (classic) pada awalnya digunakan untuk menyebutkan masa ketinggian dan keelokan seni dan budaya di Eropa pada masa Yunani dan Romawi, sedangkan istilah klasik di Indonesia dipakai untuk menandai suatu periode dalam sejarah yang di dalamnya pengaruh Hindu-Budha memuncak dengan hasil seni budaya yang bermutu tinggi yakni berasal dari kurun waktu antara abad IV hingga XVI Masehi.

PERISTIWA DIGLOSIA DALAM MASYARAKAT JAWA KUNA

Bahasa sebagai sebuah gejala dan kekayaan sosial tak akan pernah berhenti melaju sejalan dengan perkembangan pemakaiannya. Pemikiran manusia dan tingkah laku manusia selalu ditandai oleh satu gejala alami, yakni perubahan. Perubahan adalah ciri pembeda yang berkadar universal dari umat manusia. Perubahan tingkah laku berbahasa terjadi pada setiap kawasan kehidupan dalam setiap ruang dan waktu dari suatu suasana ke suasana lainnya, semua ini akan menyebabkan perubahan-perubahan aturan-aturan dan norma. Bahasa tidak pernah hadir dalam kehampaan, karena akan selalu diwarnai dengan perubahan-perubahan sosial.


ANALISIS BATU BATA

ANALISIS BATU BATA

Berdasarkan pada hasil penelitian ini dapat dipastikan bahwa di Situs Sitinggil terdapat struktur bangunan berciri masa prasejarah, yaitu punden berundak. Namun, berdasarkan pada hasil survey juga terdapat indikasi yang kuat bahwa di sekitar kawasan Situs Sitinggil pada masa lampau berdiri pula sebuah bangunan berciri masa Hindu-Budha (Klasik) yang terbuat dari bahan batu bata. Berdasarkan pada pengamatan dan perbandingan bentuk batu bata yang ditemukan, dapat diinterpretasikan bahwa kemungkinan besar batu bata tersebut merupakan fragmen-fragmen bagian dari bangunan suci (candi).

INDIANISASI

Dari sudut pandang geografis, Kepulauan Nusantara terletak pada persilangan strategis antar Benua dan Samudera. Dengan kondisi tersebut, perkembangan kebudayaan di kepulauan ini selalu mendapat pengaruh budaya besar di sekitarnya, yaitu India dan China. Salah satu persoalan sejarah budaya yang masih menjadi misteri adalah mengenai proses masuknya Kebudayaan India di Jawa Tengah yaitu jalan masuk dan jalur Indianisasi sampai di pedalaman Jawa Tengah bagian selatan. Salah satu wilayah di kawasan pantai utara Jawa Tengah yang cukup strategis dari sudut pandang geografis adalah Kabupaten Batang. Berdasarkan pada potensi yang dimiliki, maka dapat diperkirakan bahwa Kabupaten Batang memiliki peran yang strategis dalam proses masuk dan berkembangnya pengaruh Kebudayaan India di Pulau Jawa.

USS LIBERTY

Indonesia sebagai negara maritim terbesar di dunia, diperkirakan memiliki 3000 situs yang mengandung sumberdaya arkeologi bawah air. Namun sayangnya, potensi yang besar tersebut belum dikelola (penelitian dan pelestariannya) dengan optimal. Berbagai konflik kepentingan dalam pengelolaan sumberdaya arkeologi bawah air menimbulkan pemikiran baru dalam visi pelestarian. Oleh karena itu, perlu dikembangkan pendekatan alternatif yang lebih dapat mengakomodasi berbagai kepentingan masyarakat lokal. Salah satu model pendekatan yang berorientasi pada masyarakat lokal adalah model pemberdayaan masyarakat. Pemberdayaan masyarakat lokal sekitar situs arkeologis dapat diwujudkan dalam tiga aspek pemberdayaan, yaitu: pemberdayaan dalam bidang a) sosial-budaya, b) politik, dan c) ekonomi.

SENI KRIYA

/i sěděng wwang těkan hanyar

makadrěwya sarwawidya…

(PRiBN, Parwa 1 Sargah 1, 73:21-74:2)[1]


[1] Terjemahan: “sedangkan orang pendatang baru memiliki berbagai pengetahuan…” Pustaka Rajya Rajya i Bhumi Nusantara, Parwa 1 Sargah 1, 73:21-74:2. Catatan sejarah Keraton Cirebon (abad 17) mengenai kedatangan orang-orang dari negeri di Asia Tenggara Daratan menuju kepulauan Nusantara pada 1600 SM. Diantara beberapa keahlian yang mereka miliki adalah membuat perahu yang sangat bagus dan menanam padi (Atja & Ekajati, 1987).

VIDEO DIGITAL UNTUK ARKEOLOGI

VIDEO DIGITAL

Dokumen penelitian berupa audio-visual sebagai salah satu bentuk dokumentasi penelitian, sampai saat ini belum banyak mendapat perhatian yang serius. Padahal sumber-sumber tersebut merupakan bahan yang sangat potensial untuk mempublikasikan arkeologi kepada masyarakat luas. Tulisan ini secara khusus akan membahas dokumen audio-visual beserta keluarannya dalam bentuk video digital dokumenter kearkeologian. Pada instansi Balai Arkeologi Yogyakarta, bentuk publikasi semacam ini merupakan produk yang keluarannya diusahakan secara rutin pada setiap akhir penelitian serta pada peristiwa-peristiwa penting lainnya yang berkenaan dengan sumberdaya arkeologi.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.