Tinggalan budaya megalitik di wilayah Jawa Timur bagian timur seperti di wilayah Jember, Bondowoso, Situbondo, dan Banyuwangi cukup banyak. Dari beberapa penelitian selama ini diketahui bahwa peninggalan yang terdapat di wilayah Bondowoso sangat padat sebarannya, dan variasi hasil budayanya paling banyak. Oleh karenanya tidaklah salah jika ada yang menyebut bahwa di daerah timur Jawa Timur tersebut merupakan kerajaan megalitik dengan ibukotanya di Bondowoso. Khususnya terhadap peninggalan megalitik di Bondowoso ini sudah sering dilakukan penelitian. Namun penelitian-penelitian yang telah dilakukan tidak dapat menjawab secara tuntas terhadap permasalahan mengenai peninggalan tersebut. Permasalahan-permasalahan akademik baru terus bermunculan dan menuntut informasi-informasi/data baru untuk menjawabnya. Demikian pula munculnya/ditemukannya data baru yang menuntut penjelasan. Diantara permasalahan yang hingga kini belum terjawab secara memuaskan adalah mengenai masyarakat pendukung budaya megalitik dan masa perkembangannya.
MENENGOK KEMBALI BUDAYA DAN MASYARAKAT MEGALITIK BONDOWOSO
Rabu, 9 Juli 2008 oleh sofwan noerwidi
Ditulis dalam Austronesia, Megalitik, Peradaban, Prasejarah, Protohistory | 1 Komentar
Satu Tanggapan
Tinggalkan Balasan
Top Rated
-
Tulisan Teratas
-
Tulisan Terakhir
- STRATEGI ADAPTASI AUSTRONESIA DI KEPULAUAN INDONESIA
- EKSKAVASI SITUS KENDENGLEMBU: Implikasinya Bagi Migrasi-Kolonisasi Austronesia di Sudut Tenggara Jawa
- MUNGKINKAH BATAS KOTA MAJAPAHIT ADA DI JAKARTA ?
- DISTRIBUSI SPASIAL SITUS-SITUS NEOLITIK DI SEPANJANG ALIRAN SUNGAI KALI BARU, KABUPATEN BANYUWANGI, PROVINSI JAWA TIMUR
- ARCHAEOLOGICAL RESEARCH OF KENDENGLEMBU SITE, EAST JAVA, INDONESIA
Daftar Blog
-
Blog Stats
- 11,254 hits
SocialVibe
-
Pengarang
Meta
-
Komentar Terakhir
Kategori Awan
-
Klik tertinggi
- Tidak ada
Kategori
Halaman
-
Flickr Photos
More Photos Arsip
Tag
-
Spam Blocked
Memang sesuai dengan data yang sudah diperoleh, wilayah Bondowoso- Jember bagian utara merupakan pusat dari megalitik disamping Banyuwangi, Situbondo, dan Probolinggo yang merupakan imbas dari jangkauan penyebarannya. Lembah (intermontane) Iyang-Ijen sebagai ciri khas geografis dari Bondowoso dan Jember nampaknya merupakan wilayah yang strategis dalam pengembangan budaya megalitik pada masa itu.
Secara teoritis mengatakan bahwa megalitik muncul dan berkembang di Indonesia lewat dua gelombang yaitu pertama melalui jalur barat bersama-sama dengan budaya beliung persegi (perkembangan masa neolitik) sedangkan gelombang kedua muncul lewat jalur utara bersama-sama dengan budaya perunggu Dongson (lihat pendapat Heine Geldern tentang masuknya megalitik di Indonesia). Akan tetapi apakah betul demikian? Fakta belum membuktikan dan mengarah ke situ. Nampaknya pendapat itu lebih mengacu pada kaum difusionisme yang dirujuk dari barat tentang perkembangan megalitik di dunia pada umumnya. Fakta baru untuk sementara memberikan data pertanggalan absolut terhadap kehadiran megalitik di Indonesia tidak lebih dari awal Masehi (lihat karangan saya dalam Austronesia). Bahkan paling banyak menunjukkan pertanggalan yang lebih muda seperti pada abad-abad 7-14 M seperti yang ditunjukkan pada pertanggalan C14 di beberapa situs di Bondowoso dan Jember serta Situbondo, serta di Pasemah dan Kerinci. Bahkan lelbih muda lagi pada situs kubur kalang di Bojonegoro.
Tentang manusia memang dari fakta hasil penelitian sekarang belum berhasil menemukan rangka manusia, kecuali gigi-gigi seperti yang di Besoa (Sulawesi Tengah). Namun nampaknya identifikasi lebih mengarah pada manusia moderen yang sudah dicirikan dari ras Mongolid. Bahkan seperti di Bondowoso sendiri nampaknya perkembangan megalitik di wilayah tersebut berbarengan dengan perkembangan pengaruh budaya Hindu-Buda (Singasari/Kediri – Majapahit). Jadi masyarakat megalitik di daerah Bondowoso atau mungkin juga di tempat-tempat lain merupakan masyarakat pinggiran dari sebuah kekuasaan atau kerajaan yang dipengaruhi Hindu-Buda.