<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: MENENGOK  KEMBALI BUDAYA DAN MASYARAKAT MEGALITIK BONDOWOSO</title>
	<atom:link href="http://arkeologika.wordpress.com/2008/07/09/menengok-kembali-budaya-dan-masyarakat-megalitik-bondowoso/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://arkeologika.wordpress.com/2008/07/09/menengok-kembali-budaya-dan-masyarakat-megalitik-bondowoso/</link>
	<description>Jogja Never Ending Archaeology..</description>
	<lastBuildDate>Fri, 23 Oct 2009 04:14:00 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: bagyo prasetyo</title>
		<link>http://arkeologika.wordpress.com/2008/07/09/menengok-kembali-budaya-dan-masyarakat-megalitik-bondowoso/#comment-24</link>
		<dc:creator>bagyo prasetyo</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 07 Nov 2008 05:37:45 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://arkeologika.wordpress.com/?p=66#comment-24</guid>
		<description>Memang sesuai dengan data yang sudah diperoleh, wilayah Bondowoso- Jember bagian utara merupakan pusat dari megalitik disamping Banyuwangi, Situbondo, dan Probolinggo yang merupakan imbas dari jangkauan penyebarannya. Lembah (intermontane) Iyang-Ijen sebagai ciri khas geografis dari Bondowoso dan Jember nampaknya merupakan wilayah yang strategis dalam pengembangan budaya megalitik pada masa itu. 
Secara teoritis mengatakan bahwa megalitik muncul dan berkembang di Indonesia lewat dua gelombang yaitu pertama melalui jalur barat bersama-sama dengan budaya beliung persegi (perkembangan masa neolitik) sedangkan gelombang kedua muncul lewat jalur utara bersama-sama dengan budaya perunggu Dongson (lihat pendapat Heine Geldern tentang masuknya megalitik di Indonesia). Akan tetapi apakah betul demikian? Fakta belum membuktikan dan mengarah ke situ. Nampaknya pendapat itu lebih mengacu pada kaum difusionisme yang dirujuk dari barat tentang perkembangan megalitik di dunia pada umumnya. Fakta baru untuk sementara memberikan data pertanggalan absolut terhadap kehadiran megalitik di Indonesia tidak lebih dari awal Masehi (lihat karangan saya dalam Austronesia). Bahkan paling banyak menunjukkan pertanggalan yang lebih muda seperti pada abad-abad 7-14 M seperti yang ditunjukkan pada pertanggalan C14 di beberapa situs di Bondowoso dan Jember serta Situbondo, serta di Pasemah dan Kerinci. Bahkan lelbih muda lagi pada situs kubur kalang di Bojonegoro.
Tentang manusia memang dari fakta hasil penelitian sekarang belum berhasil menemukan rangka manusia, kecuali gigi-gigi seperti yang di Besoa (Sulawesi Tengah). Namun nampaknya identifikasi lebih mengarah pada manusia moderen yang sudah dicirikan dari ras Mongolid. Bahkan seperti di Bondowoso sendiri nampaknya perkembangan megalitik di wilayah tersebut berbarengan dengan perkembangan pengaruh budaya Hindu-Buda (Singasari/Kediri - Majapahit). Jadi masyarakat megalitik di daerah Bondowoso atau mungkin juga di tempat-tempat lain merupakan masyarakat pinggiran dari sebuah kekuasaan atau kerajaan yang dipengaruhi Hindu-Buda.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Memang sesuai dengan data yang sudah diperoleh, wilayah Bondowoso- Jember bagian utara merupakan pusat dari megalitik disamping Banyuwangi, Situbondo, dan Probolinggo yang merupakan imbas dari jangkauan penyebarannya. Lembah (intermontane) Iyang-Ijen sebagai ciri khas geografis dari Bondowoso dan Jember nampaknya merupakan wilayah yang strategis dalam pengembangan budaya megalitik pada masa itu.<br />
Secara teoritis mengatakan bahwa megalitik muncul dan berkembang di Indonesia lewat dua gelombang yaitu pertama melalui jalur barat bersama-sama dengan budaya beliung persegi (perkembangan masa neolitik) sedangkan gelombang kedua muncul lewat jalur utara bersama-sama dengan budaya perunggu Dongson (lihat pendapat Heine Geldern tentang masuknya megalitik di Indonesia). Akan tetapi apakah betul demikian? Fakta belum membuktikan dan mengarah ke situ. Nampaknya pendapat itu lebih mengacu pada kaum difusionisme yang dirujuk dari barat tentang perkembangan megalitik di dunia pada umumnya. Fakta baru untuk sementara memberikan data pertanggalan absolut terhadap kehadiran megalitik di Indonesia tidak lebih dari awal Masehi (lihat karangan saya dalam Austronesia). Bahkan paling banyak menunjukkan pertanggalan yang lebih muda seperti pada abad-abad 7-14 M seperti yang ditunjukkan pada pertanggalan C14 di beberapa situs di Bondowoso dan Jember serta Situbondo, serta di Pasemah dan Kerinci. Bahkan lelbih muda lagi pada situs kubur kalang di Bojonegoro.<br />
Tentang manusia memang dari fakta hasil penelitian sekarang belum berhasil menemukan rangka manusia, kecuali gigi-gigi seperti yang di Besoa (Sulawesi Tengah). Namun nampaknya identifikasi lebih mengarah pada manusia moderen yang sudah dicirikan dari ras Mongolid. Bahkan seperti di Bondowoso sendiri nampaknya perkembangan megalitik di wilayah tersebut berbarengan dengan perkembangan pengaruh budaya Hindu-Buda (Singasari/Kediri &#8211; Majapahit). Jadi masyarakat megalitik di daerah Bondowoso atau mungkin juga di tempat-tempat lain merupakan masyarakat pinggiran dari sebuah kekuasaan atau kerajaan yang dipengaruhi Hindu-Buda.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
