Majapahit, sebagai salah satu kerajaan besar pada masa lampau telah banyak mengilhami kehidupan kita pada masa kini. Usaha-usaha untuk mengungkapkan kebesaran kerajaan tersebut telah dimulai sejak Letnan Jenderal Raffles menguasai Pulau Jawa dan daerah sekitarnya. Thomas Stamford Raffles-lah yang menggeluti bidang kepurbakalaan dan sejarah Indonesia kuno. Dalam bukunya “the History of Java” tahun 1817, telah dimuat beberapa keterangan mengenai peninggalan Majapahit yang menarik perhatiannya, antara lain Candi Brahu dan Gapura Jati Pasar (lihat Raffles, 1978: 54 dan 134). Setelah itu banyak pula sarjana asing, kebanyakan Belanda ikut andil menyumbangkan pemikirannya dalam merekonstruksi Majapahit, yang beberapa diantaranya merupakan ahli bahasa Sansekerta, antara lain adalah; J.L.A. Brandes (1857-1905), H. Kern (1833-1917), N.J. Krom (1883-1945), dan W.F. Stutterheim (1892-1942). Pada tahun 1896, Brandes menerbitkan edisi pertamanya tentang Pararaton, yang kemudian diikuti oleh artikel Kern pada tahun 1905 tentang Nagarakretagama dan kebesaran Majapahit, serta karya Krom tentang “Sejarah Hindu-Jawa” (Hindoe-Javaansche Geschiedenis) pada tahun 1931 (lihat Lombard, 2006b: 6-7). Selain itu, karya yang cukup komprehensif menggambarkan keadaan Majapahit pada masa Hayam Wuruk berdasarkan kitab Nagarakretagama adalah terbitan lima jilid “Java in the Fourteenth Century” karya Theodore G. Th. Pigeaud pada tahun 1960.
MUNGKINKAH BATAS KOTA MAJAPAHIT ADA DI JAKARTA ?
Selasa, 1 September 2009 oleh sofwan noerwidi

![Livorno I (The Tuscany Series) [Explore] Livorno I (The Tuscany Series) [Explore]](http://static.flickr.com/7245/7327014798_46a6694fa2_t.jpg)
