Feeds:
Tulisan
Komentar

sriwijaya_balar-yk
Svarnadwipa dan Yavadwipa adalah nama-nama kuna untuk menyebut dua buah pulau di Nusantara atau Indonesia. Kedua pulau itu sekarang dikenal sebagai Pulau Sumatra dan Pulau Jawa. Svarna berarti emas, Svarnadwipa berarti pulau emas. Pulau Sumatra disebut sebagai svarnadwipa karena pulau tersebut memang banyak menghasilkan emas. Pulau Sumatra sebagai penghasil emas telah tercatat dalam sejarah. Claudius Ptolemaeus, seorang astronom dan geograf Eropa pada abad pertama dan kedua masehi telah mengelilingi wilayah yang disebut “Chryse Chersonesos” (semenanjung emas) (Meulen, 1988: 27; Rangkuti, 1994: 164). Menurut Paul Wheatley (1961) yang dimaksud semenanjung emas adalah Malaka, sedangkan sarjana lain seperti Wilhelm Volz (1911) dan WJ van der Meulen (1988) menyatakan bahwa yang dimaksud semenanjung emas adalah Sumatra. Di daerah Bukit Barisan di sepanjang pantai barat Sumatra merupakan daerah yang menyimpan kandungan emas, tidak kalah banyaknya dibandingkan Malaka (Meulen, 1988: 37-38; Rangkuti, 1994: 164). Sementara itu Yavadvipa adalah sebutan untuk Pulau Jawa yang kaya akan hasil buminya terutama padi, serta kaya akan tambang emas, seperti tertulis dalam Prasasti Canggal (654 Ç/ 732 M). Dalam prasasti itu tertulis: “asid dvipavaram Yavakhyam atulam dhanyadi-vijadhikam…”, yang berarti: “adalah pulau mulia bernama Jawa, yang tak ada bandingannya tentang hasil buminya, terutama hasil padi, kaya akan tambang emas…” (Poerbatjaraka, 1982: 32-33).

Sofwan_BRC2010rev
Kalimantan atau biasa disebut juga Borneo adalah pulau terbesar ketiga di dunia, setelah Greenland dan Papua. Terletak di tengah perairan Asia Tenggara Kepulauan, yang secara administratif saat ini terbagi ke dalam wilayah negara Indonesia, Malaysia dan Brunai. Pulau Kalimantan dikelilingi oleh (searah jarum jam) Laut Cina Selatan, Laut Sulu, Laut Sulawesi, Selat Makassar, Laut Jawa dan Selat Karimata. Pulau seluas 743,330 km² ini merupakan jembatan strategis yang menghubungkan Kepulauan Filipina, Semenanjung Melayu, Sumatra, Sulawesi dan Jawa (http://en.wikipedia.org/wiki/Borneo). Lokasinya yang sangat strategis pada perairan ini, membuat pulau Kalimantan patut diperhitungkan dalam perspektif kawasan yang lebih luas.

Sofwan_SangiranPatiayam
Penelitian tentang asal usul manusia di Indonesia telah dimulai sejak Eugene Dubois menemukan fosil atap tengkorak dan tulang paha kiri Pithecantropus erectus (Homo erectus erectus) pada pada endapan vulkanik jajaran Pegunungan Kendeng di Trinil tahun 1891 (Widianto, 2006). Hingga kini penelitian mengenai hal tersebut telah banyak mengalami kemajuan. Berdasarkan bukti paleoantropologi, populasi makhluk manusia yang pertama kali mendiami kawasan Indonesia adalah Homo erectus. Mereka bermigrasi dari Afrika sampai di Kepulauan Indonesia pada Kala Plestosen Bawah sekitar 1,7 Juta tahun yang lalu (Sémah, 2000). Manusia jenis tersebut diperkirakan berevolusi menjadi bentuk yang progresif, yaitu Pithecanthropus (Homo erectus) soloensis atau Solo Man, tetapi kemudian mengalami kepunahan pada Kala Plestosen akhir sekitar 40.000 BP bersamaan dengan kurun awal kemunculan Homo sapiens (Bellwood, 1975).

Noerwidi_MorfologiSK5
Spesimen Song Keplek 5 (SK5) ditemukan pada tahun 1998 di situs Song Keplek, terletak di kawasan karst Gunung Sewu (Pegunungan Selatan), Jawa Timur. SK5 adalah rangka dari sebuah penguburan yang berumur c. 3053 ± 65 calBP (AA96775) berdasarkan pertanggalan langsung pada sample fragmen tulang rusuk dan vertebrae. Tulisan ini akan membahas informasi aspek biologis dan konteks budaya dari SK5. Informasi biologis meliputi estimasi usia, jenis kelamin, perkiraan tinggi, dan patologi serta kondisi kesehatan. Pembahasan konteks budaya akan mencakup praktek-praktek budaya dalam kehidupan si individu (premortem), dan praktik penguburan (postmortem). Eksplorasi aspek-aspek budaya dan biologis SK 5 tidak hanya berguna untuk mengetahui “osteobiografi” rangka tersebut, namun juga untuk meningkatkan pemahaman kita tentang kondisi kehidupan selama pertengahan Holosen di Jawa, pasa masa awal penghunian penutur bahasa Austronesia di pulau tersebut.

Noerwidi_YTT 74 Kya
One of the largest volcanic activity which predicted was caused terrible volcanic winter in Quaternary period is the Toba eruption in 74 ka, Northern Sumatra, Indonesia. According to the Toba catastrophe theory by some scholars, it had a global consequence of killing most humans who alive and creating of a population bottleneck that affected the genetic inheritance of all living humans today. This theory however, has been largely debated as there is lack evidence for any other animal decline or extinction, even in environmentally sensitive species. This paper will discuss about Toba eruption and also its impact for vegetal, animal, and human environmental change based on previous research. Future work in paleoenvironment studies must be supported by higher resolution chronologies than are presently available to provide more comprehensive picture of the environmental impact from the 74 ka Toba eruption.

The question about the origins of Polynesians people has been the subject of hot debate. There are two principal hypotheses concerning Polynesian ancestry, there are called as “Express Train” (Asia origin) and “Entangled Bank” (Melanesia origin). Several intermediate hypothesis exists between them are “Slow Train”, Slow Boat” and “Voyaging Corridor”. To traces human migration and movement in prehistoric times is not easy case, it should used a comparisons study based on historical linguistic, genetic, and palaeoanthropological data. Results of those studies are able to evaluate some of the competing hypotheses that relate to the settlement and colonization of the Pacific Insular and the bio-cultural connections within another region that may inform on population movements.
Noerwidi_EarlyPeoplingofthePacific

The pictures indicated as an art began their human invasion of the symbolic world, just started around 100.000 BP and more intensively since 30.000 years. The meaning of the relations between the men and with their world is produced by organization of representations in graphic systems by images, expression and communication in the same time. Since the first appearance of genus Homo, the development of cerebral and social evolution probably causes the ability to symbolize. Human uses the image to the modernity which is gives a symbolic way to the meaning for the beings and to the things (Vialou, 2009). This paper is a short report about development of contribution on study of symbolic behavior for interpreting of prehistoric society, from beginning period until recent times by several scholars.Noerwidi_PrehistoricArt

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.